Digrahayu Provinsi Jawa Barat ke 70, dengan semangat “Jabar Kahiji, Jabar Kreatif dan, Bestari\"kita wujudkan Swasembada Pangan Provinsi Jawa Barat.
Home >> Informasi >> Berita
Berita

10 Agustus 20110
KEMITRAAN UNTUK MENGURANGI IMPOR BERAS KETAN
Penulis : Admin

pusdatin diperta jabar

Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (Ditjen P2HP) menggalang kemitraan antara petani beras ketan dengan penggilingan dan importirnya melalui program substitusi beras ketan impor di Subang Jawa Barat. Program ini dinilai berhasil dan akan dikembangkan ke Indramayu, Jawa Barat.

Penanaman beras ketan  di Kabupaten Subang secara intensif mulai dilakukan tahun 2002 di Desa Citra Kecamatan Binong, Subang, Jawa Barat. Namun beberapa kendala muncul. Di antaranya: adanya fluktuasi harga gabah/teras ketan yang tinggi sehingga sulit diprediksi dan menimbulkan ketidakpastian harga.

Kendala lainnya, budidaya tanaman ketan relatif lebih rentan oleh hama karena perhatian baik dari pemerintah maupun petugas masih kurang. Juga, benih masih menjadi masalah utama karena masih terbatasnya penangkar benih yang bergerak di varietas ketan sehingga pengadaan benih dilaksanakan petani sendiri.

Untuk mengatasi masalah itu, khususnya fluktuasi harga ketan, Ditjen P2HP mengeluarkan kebijakan berupa surat edaran (S/E) Dirjen PPHP tahun 2007 tentang penyerapan beras ketan lokal oleh importir. S/E disempurnakan dengan Surat Edaran (SE) Dirjen PPHP No.284/ TU.210/G/4/2010 tahun 2010 tentang pembelian beras ketan dalam negeri yang dilaksanakan oleh importir.

Direktur Pemasaran Domestik Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (PPHP) Kementan Mahpudin mengatakan ada beberapa keuntungan dari adanya SE Direktur Jenderal PPHP. Manfaat tersebut semakin dirasakan petani ketan di Subang dengan adanya tindaklanjut S/E itu dengan Surat Kepala Dinas 521/526/Dipertan tanggal 22 Juli 2011 perihal: pelaksanaan penyerapan beras ketan oleh importir di Kabupaten Subang.

Beberapa manfaatnya buat petani, pertama, harga padi/ gabah ketan musim panen relatif stabil dan berada pada batas yang lebih menguntungkan dibanding dengan varietas lain. Kedua, harga beras di tingkat penggilingan padi relatif stabil baik pada musim panen maupun pasca panen. Ketiga, terjadi peningkatan mutu baik budidaya, gabah, maupun di pengolahan beras sesuai tuntutan kualitas yang diminta oleh pasar.

Keempat, terjalin kemitraan yang lebih baik antara produsen (Gapoktan) dan penggilingan padi dan pedagang beras (importir). Kelima, dengan masuknya importir (Pedagang Beras Besar) ke daerahsentra membuka peluang pemasaran beras ketan bahkan beras non ketan menjadi makin luas bagi para penggilingan padi.

Keenam, mendorong Pemerintah Daerah dan petani untuk melaksanakan pemurnian benih dan mengembangkan budidaya padi ketan yang lebih baik. Ketujuh, kebijakan pemerintah khususnya SE Dirjen PPHP tentang penyerapan beras ketan dalam negeri telah membantu perkembangan harga yang relatif stabil dan menguntungkan baik bagi petani produsen gabah maupun penggilingan padi sebagai produsen beras.

Di kabupaten Subang saat ini luas arealketan ± 7.250 ha tersebar di 8 kecamatan dan 30 desa meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kebijakan substitusi impor sebesar 75% posisi Mei 2011 telah berdampak kepada penyerapan beras ketan lokal sebesar 5.437,5 ton dari kuota impor yang sudah dikeluarkan 72.500 ton yang terbagi kepada 2 kabupaten yaitu Kabupaten Subang Jawa Barat dan Kabupaten Lumajang Jawa Timur.

Ke depan akan dikembangkan penambahan lokasi produksi ketan yang ikut dalam program substitusi impor ketan yaitu Kabupaten Indramayu Jawa Barat.

Sumber : SINAR TANI | File : | Dibaca : 27510 x


Berita Lainnya

NASIB PETANI TERIMPIT
07 September 2015

CIHAMPELAS,(GM).-
Musim kemarau yang berlangsung cukup lama menyebabkan kehidupan sekitar 380 kepala keluarga (KK) petani di Desa Mekarjaya, Kec, Cihampelas, Kab. Bandung Barat (KBB) semakin sulit akibat gagal panen. Bahkan

PENYERAPAN GABAH PETANI SEMAKIN INTENSIF
07 September 2015

SURABAYA, KOMPAS – Pengadaan gabah setara beras yang dilakukan Perum Bulog Jawa Timur semakin intensif agar penyerapan hingga September dapat mencapai 500.000 ton. Hingga kini, program upaya khusus pengadaan gabah

TERBEBANI MASALAH MASA LALU
07 September 2015

Banyak Kalangan mengindentifikasi rendahnya alokasi kredit pertanian dipengaruhi oleh beberapa hal. Salah satu di antaranya adalah risiko tinggi karena masih sangat bergantung pada alam, ketatnya persyaratan kredit pertanian, serta ketiadaan

PENJUALAN PUPUK ANJLOK
07 September 2015

AHIM (43) menata karung berisi pupuk di tokonya di Kampung Patrol, Desa Lebakwangi, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Rabu (2/9/2015). 

 1 2 3 >  Last ›