Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Provinsi Jawa Barat Ke-69,--“Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh”
Home >> Informasi >> Berita
Berita

10 Agustus 20110
KEMITRAAN UNTUK MENGURANGI IMPOR BERAS KETAN
Penulis : Admin

pusdatin diperta jabar

Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (Ditjen P2HP) menggalang kemitraan antara petani beras ketan dengan penggilingan dan importirnya melalui program substitusi beras ketan impor di Subang Jawa Barat. Program ini dinilai berhasil dan akan dikembangkan ke Indramayu, Jawa Barat.

Penanaman beras ketan  di Kabupaten Subang secara intensif mulai dilakukan tahun 2002 di Desa Citra Kecamatan Binong, Subang, Jawa Barat. Namun beberapa kendala muncul. Di antaranya: adanya fluktuasi harga gabah/teras ketan yang tinggi sehingga sulit diprediksi dan menimbulkan ketidakpastian harga.

Kendala lainnya, budidaya tanaman ketan relatif lebih rentan oleh hama karena perhatian baik dari pemerintah maupun petugas masih kurang. Juga, benih masih menjadi masalah utama karena masih terbatasnya penangkar benih yang bergerak di varietas ketan sehingga pengadaan benih dilaksanakan petani sendiri.

Untuk mengatasi masalah itu, khususnya fluktuasi harga ketan, Ditjen P2HP mengeluarkan kebijakan berupa surat edaran (S/E) Dirjen PPHP tahun 2007 tentang penyerapan beras ketan lokal oleh importir. S/E disempurnakan dengan Surat Edaran (SE) Dirjen PPHP No.284/ TU.210/G/4/2010 tahun 2010 tentang pembelian beras ketan dalam negeri yang dilaksanakan oleh importir.

Direktur Pemasaran Domestik Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (PPHP) Kementan Mahpudin mengatakan ada beberapa keuntungan dari adanya SE Direktur Jenderal PPHP. Manfaat tersebut semakin dirasakan petani ketan di Subang dengan adanya tindaklanjut S/E itu dengan Surat Kepala Dinas 521/526/Dipertan tanggal 22 Juli 2011 perihal: pelaksanaan penyerapan beras ketan oleh importir di Kabupaten Subang.

Beberapa manfaatnya buat petani, pertama, harga padi/ gabah ketan musim panen relatif stabil dan berada pada batas yang lebih menguntungkan dibanding dengan varietas lain. Kedua, harga beras di tingkat penggilingan padi relatif stabil baik pada musim panen maupun pasca panen. Ketiga, terjadi peningkatan mutu baik budidaya, gabah, maupun di pengolahan beras sesuai tuntutan kualitas yang diminta oleh pasar.

Keempat, terjalin kemitraan yang lebih baik antara produsen (Gapoktan) dan penggilingan padi dan pedagang beras (importir). Kelima, dengan masuknya importir (Pedagang Beras Besar) ke daerahsentra membuka peluang pemasaran beras ketan bahkan beras non ketan menjadi makin luas bagi para penggilingan padi.

Keenam, mendorong Pemerintah Daerah dan petani untuk melaksanakan pemurnian benih dan mengembangkan budidaya padi ketan yang lebih baik. Ketujuh, kebijakan pemerintah khususnya SE Dirjen PPHP tentang penyerapan beras ketan dalam negeri telah membantu perkembangan harga yang relatif stabil dan menguntungkan baik bagi petani produsen gabah maupun penggilingan padi sebagai produsen beras.

Di kabupaten Subang saat ini luas arealketan ± 7.250 ha tersebar di 8 kecamatan dan 30 desa meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kebijakan substitusi impor sebesar 75% posisi Mei 2011 telah berdampak kepada penyerapan beras ketan lokal sebesar 5.437,5 ton dari kuota impor yang sudah dikeluarkan 72.500 ton yang terbagi kepada 2 kabupaten yaitu Kabupaten Subang Jawa Barat dan Kabupaten Lumajang Jawa Timur.

Ke depan akan dikembangkan penambahan lokasi produksi ketan yang ikut dalam program substitusi impor ketan yaitu Kabupaten Indramayu Jawa Barat.

Sumber : SINAR TANI | File : | Dibaca : 22451 x


Form Komentar Berita


Berita Lainnya

INPARI 19, ADAPTIF DI BERBAGAI KABUPATEN
20 Oktober 2014

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah menciptakan varietas padi yang dapat dikembangkan di lahan irigasi dan tadah hujan. Pada tahun 2011 telah dilepas varietas unggul baru (VUB) dengan

PENCETAKAN SAWAH BARU JADI PROGRAM PRIORITAS
20 Oktober 2014

Dari target 100.000 hektare pada 2018 mendatang, Pemerintah Provinsi Jawa Barat baru mampu merealiasikan sekitar 500 hektare sawah baru hingga saat ini. Meskipun demikian, masih ada ratusan ribu hektare

5 NEGARA YANG TAK BAKAL KEKURANGAN PANGAN
17 Oktober 2014

Tidak semua negara ternyata mampu memenuhi kebutuhan pangan bagi rakyatnya. Bahkan kawasan Sub-sahara Afrika diprediksi hanya mampu mencukupi 15 persen kebutuhan pangan warganya pada 2030.

PENDUDUK BUMI BAKAL KEKURANGAN PANGAN PADA 2050
17 Oktober 2014

Persediaan pangan yang ada diperkirakan tak akan mampu mencukupi kebutuhan seluruh penduduk dunia pada 2050 jika produktivitas pangan tidak mengalami peningkatan.
 

 1 2 3 >  Last ›