Digrahayu Provinsi Jawa Barat ke 70, dengan semangat “Jabar Kahiji, Jabar Kreatif dan, Bestari\"kita wujudkan Swasembada Pangan Provinsi Jawa Barat.
Home >> Informasi >> Berita
Berita

09 Agustus 20110
PERTEMUAN SINKRONISASI DAN KOORDINASI KELEMBAGAAN UPJA DI BOGOR
Penulis : Admin

http://pla.deptan.go.id

Pertemuan Sinkronisasi dan Koordinasi Pengembangan Kelembagaan UPJA telah dilaksanakan pada hari Senin dan Selasa, tanggal 4 dan 5 Juli 2011 di IPB International Convention Center, di Kota Bogor. Tujuan pertemuan sinkronisasi dan koordinasi ini dimaksudkan selain untuk percepatan pelaksanaan kegiatan aspek alat dan mesin pertanian tahun 2011, secara khusus pertemuan ini juga akan membahas operasional pelaksanaan kegiatan pengembangan kelembagaan UPJA dan meningkatkan kesamaan gerak langkah dan sinergi diantara pelaksana teknis dilapang agar kelembagaan UPJA dapat lebih mandiri dan profesional.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian  dan diikuti oleh peserta yang berasal dari Pusat yaitu Pejabat Eselon II, Eselon III dan Eselon IV lingkup Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP). Adapun peserta daerah  yang hadir adalah pejabat yang menangani alat dan mesin pertanian Dinas lingkup Pertanian Provinsi. Dalam sambutannya Dirjen PSP menyampaikan beberapa point penting antara lain : 1). Alsintan menjadi salah satu terobosan baru dalam pembangunan pertanian untuk mengatasi permalasahan keterbatasan jumlah tenaga kerja di pedesaan dengan fokus mendukung 5 komoditas target swasembada: padi, jagung, kedelai, tebu dan jagung sapi; 2). Alsintan diharapkan menjadi bagian dalam peningkatan produktivitas pertanian; 3). Bantuan alsintan yang selama ini diberikan kepada kelompok tani, harus didukung dengan kelembagaan UPJA yang utuh menuju ke arah pelayanan yang profesional dan mandiri; dan 4). Membangun UPJA dalam arti yang sebenarnya menjadi tantangan kita semua.

Selain acara sinkronisasi dan koordinasi, juga diselenggarakan Pameran/display produk Alsintan dari perusahaan penyedia Alsintan yaitu PT. Yanmar Diesel Indonesia, CV. Karya Hidup Sentosa, PT. Kubota Indonesia, PT. Rutan. Melalui pameran/display produk alsintan tersebut, pelaksana teknis aspek alsintan di daerah mendapat informasi dan penjelasan langsung dari produsen mengenai pengembangan alsintan dalam rangka mendukung usahatani.

Berdasarkan hasil kegiatan pemaparan dan diskusi, maka kegiatan sinkronisasi dan koordinasi menghasilkan hasil rumusan, antara lain : 1). Pengembangan alsintan harus sejalan dengan dinamika sosial, budaya dan kelembagaan serta infrastruktur yang sesuai agar dapat diterapkan dan memberikan manfaat yang nyata bagi pembangunan pertanian. Oleh karena itu perlu terus dibangun kerjasama sinergis antara pemerintah pusat, pemerintah daerah (Provinsi/Kab/Kota) dan pengusaha di bidang alat dan mesin pertanian; 2). Berkembangnya UPJA di pedesaan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan petani, kelompok tani dan gabungan kelompok tani dalam rangka penyediaan pelayanan jasa alsintan guna mendukung tercapainya pemenuhan produksi pertanian yang terus meningkat sejalan dengan makin berkurangnya tenaga kerja di pedesaan, menurunnya daya dukung lahan, dan rendahnya intensitas pertanaman; 3). Secara operasional pengembangan UPJA diarahkan untuk mendorong berkembangnya pemanfaatan alsintan dan sekaligus merupakan terobosan untuk mengatasi masalah kepemilikan alsintan secara individu yang kurang menguntungkan; 4). Sebagai perwujudan dan penghargaan pemerintah terhadap Lembaga UPJA yang telah mampu melaksanakan usahanya dengan baik akan diberikan penghargaan sebagai UPJA berprestasi, untuk itu diharapkan kepada seluruh Dinas Pertanian Provinsi khususnya tanaman pangan untuk segera melaksanakan seleksi dan dapat mengusulkan 1 (satu) calonnya yang mewakili Provinsi ke Direktorat Alsin, Ditjen PSP yang kemudian akan diseleksi kembali dan dipilih untuk menjadi  UPJA berprestasi tingkat nasional; 5). Keberhasilan pengembangan UPJA dapat tumbuh dan berkembang sebagai lembaga perekonomian di pedesaan sangat ditentukan oleh komitmen seluruh pemangku kepentingan dan terbangunnya kerjasama yang sinergis antara pemerintah pusat, pemerintah daerah (Provinsi/Kab/Kota) dan pengusaha di bidang alat dan mesin pertanian. Sehingga ke depan diharapkan akan terbentuk UPJA yang mandiri yang dapat meningkatkan kapasitasnya dari usahanya sendiri bukan hanya dari bantuan pemerintah.

Sumber : Dirjen pla | File : | Dibaca : 29109 x


Berita Lainnya

NASIB PETANI TERIMPIT
07 September 2015

CIHAMPELAS,(GM).-
Musim kemarau yang berlangsung cukup lama menyebabkan kehidupan sekitar 380 kepala keluarga (KK) petani di Desa Mekarjaya, Kec, Cihampelas, Kab. Bandung Barat (KBB) semakin sulit akibat gagal panen. Bahkan

PENYERAPAN GABAH PETANI SEMAKIN INTENSIF
07 September 2015

SURABAYA, KOMPAS – Pengadaan gabah setara beras yang dilakukan Perum Bulog Jawa Timur semakin intensif agar penyerapan hingga September dapat mencapai 500.000 ton. Hingga kini, program upaya khusus pengadaan gabah

TERBEBANI MASALAH MASA LALU
07 September 2015

Banyak Kalangan mengindentifikasi rendahnya alokasi kredit pertanian dipengaruhi oleh beberapa hal. Salah satu di antaranya adalah risiko tinggi karena masih sangat bergantung pada alam, ketatnya persyaratan kredit pertanian, serta ketiadaan

PENJUALAN PUPUK ANJLOK
07 September 2015

AHIM (43) menata karung berisi pupuk di tokonya di Kampung Patrol, Desa Lebakwangi, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Rabu (2/9/2015). 

 1 2 3 >  Last ›