07 Juli 20110
LAWAN PRODUK IMPOR DENGAN PACKING DAN BRANDING PRODUK PERTANIAN LOKAL
Penulis : Admin

operator bina usaha
Pengemasan (packing) dan pemberian merek (branding) pada masa kini, dengan kondisi pasar yang semakin terbuka haras mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Pengemasan produk-produk pertanian lokal seperti buah- buahan, sayur-sayuran, rempah-rempah maupun hasil pertanian lainnya sangat penting untuk membangun produk lokal agar memiliki daya tarik dan prestise tersendiri di mata pembelinya, sekaligus mengubah stigma produk lokal yang terkesan kotor dan tidak higienis.
Pemberian merek pada produk- produk lokal juga penting untuk membangun kesan dan memperkuat citra produk tersebut. Hal ini penting agar produk lokal mempunyai nama, tidak hanya produk impor. Terkesan tidak realistis adalah ketika pemerintah mengajak masyarakatnya agar menggunakan produk lokal, tetapi di pasaran produk lokal terlihat kotor, tidak dikemas dengan baik dan tidak bermerek sehingga konsumenpun tidak tertarik membelinya, apalagi kalau harganya kalah bersaing dengan produk pertanian impor akan menambah petani lokal terpuruk dan menderita.
Sebagai sebuah contoh nyata, jeruk lokal yang berasal dari Semboro, Yogyakarta, Pontianak saat ini sudah mulai sulit ditemukan di pasaran. Ratusan pedagang kaki lima di Pasar Minggu Jakarta Selatan misalnya, sudah jarang menjajakan produk-produk lokal. Yang terlihat malah jeruk-jeruk asal China yang meskipun bentuknya kecil-kecil tetapi terlihat lebih menarik dengan kemasan dan berlabel, selain itu harga juga sangat bersaing. Jangan menyalahkan konsumen atau pedagang kalau ternyata mereka lebih memilih produk-produk impor dan jangan pula salahkan mereka para pecinta produk lokal yang akhirnya berpaling membeli produk impor, karena produk-produk lokal yang mereka cintai perlahan tapi pasti hilang di pasaran.
Kondisi ini penting untuk menjadi perhatian utama pemerintah agar penguatan kelembagaan kelompok tani/ Gapoktan ataupun asosiasi-asosiasi petani tidak hanya berkutat pada aspek organisasi, produksi tetapi juga pemasaran. Memang patut dihargai kerja pemerintah dalam upaya membangun kelompok tani yang salah satu tujuannya supaya terhindar dari harga tengkulak yang sangat murah. Tetapi masalahnya saat ini petani dibuat pusing manakala produk-produk pertanian impor membanjiri pasaran dalam negeri.
Para petani harus berani melakukan berbagai inovasi seperti yang telah disebutkan di awal yaitu packing dan branding. Kenapa harus berani, karena variable cost produk pertaniannya akan bertambah dan membuat harga lebih mahal. Tetapi para petani harus yakin bahwa tidak sedikit konsumen yang lebih memilih sedikit lebih mahal tetapi dengan produk yang terlihat bersih, terkemas dengan apik dan berlabel, dengan tetap memperhatikan pangsa pasar atau kelas konsumen yang akan disasar atau dibidik.
Di Jepang bahkan di China para petani sudah mampu dan berani melakukan pengemasan dan pelabelan terhadap produk mereka sebelum dibeli oleh pedagang. Sementara di Indonesia kalaupun ada jumlahnya masih sangat minim dan itupun masih di tingkatan pedagang yang mengerjakannya.
Kita perlu memberikan apresiasi positip terhadap para petani yang berani melakukan protes kepada pemerintah terkait dengan produk impor yang menyebabkan posisi mereka semakin tersudut. Tetapi, para petani seyogyanya mampu bangkit dan berinovasi, serta mengambil pelajaran dari masuknya produk impor, dengan bersama- sama pemerintah melakukan inovasi-inovasi dan penguatan- penguatan mutu produksi dan hasil pertanian lokal.
Para petani kita seharusnya mulai bangkit dan mulai melihat aspek-aspek global yang terus bergerak cepat, dan tentu peran | pemerintah adalah sangat penting dalam menjembatani informasi yang seharusnya didapatkan oleh petani. Petani yang bergelar sarjana barangkali sudah maklum dan memahami derasnya hasil-hasil pertanian yang masuk ke Indonesia melalui berbagai media. Mereka bisa tahu bahwa impor buah-buahan kita yang katanya Negara agraris ternyata lebih besar ketimbang nilai ekspornya. Tetapi bagaimana petani yang tidak punya gelar, bahkan baca tulis pun tak tentu lancar, yang merupakan mayoritas petani di Indonesia. Mereka hanya bisa terkaget-kaget ketika menyaksikan buah-buahan impor mendominasi pasar domestik.
Nah di sinilah seharusnya pemerintah memberikan pengarahan, informasi dan pemikiran-pemikiran yang konstruktif terhadap upaya peningkatan daya saing hasil-hasil pertanian lokal serta pemasarannya.
Petani juga harus diajak untuk berpikir global dan bertindak lokal (think globally act locally) hal ini penting agar petani juga memahami perkembangan apa saja yang terjadi di luar sana. Usaha ini bukan tanpa maksud, tetapi kita bisa bayangkan seandainya petani kita juga membayangkan apa yang sedang terjadi di negara lain, mereka menanam dengan bibit unggul, memeliharanya dengan prosedur yang benar, hasil panennya dikemas dengan apik dan dilabeli, tentu ini akan merangsang petani kita juga untuk melakukan hal yang sama, dan bila perlu lebih dari itu, agar hasil pertanian kita mampu bersaing.
Ke depan tentu kita berharapkerjasama perdagangan bebas seperti AFTA (Asean Free Trade Area) maupun ACFTA (ASEAN-China Free Trade Area) yang sudah dimulai sejak 1 Januari 2010 bisa kita hadapi dengan pembenahan-pembenahan internal, baik pada sisi pemerintah maupun para petani.
Sumber : SINAR TANI |
File : | Dibaca : 8639 x