Peringatan Ke-86, Hari Ibu Nasional Tahun 2014. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)
Home >> Informasi >> Berita
Berita

25 Mei 2011376
Mencapai Ketahanan Nutrisi dengan Sayuran
Penulis :

 MENCAPAI KETAHANAN NUTRISI DENGAN SAYURAN

 

 

Pusat Riset dan Pengembangan Sayuran Asia (AVRDC) Pusat Sayuran Dunia (The World Vegetable Center) membuka tahun 2011 dengan seruan bahwa keamanan pangan (food safety) merupakan garis depan berikutnya dalam perjuangan dunia memperbaiki nutrisi. Berbagai lembaga dunia berpandangan ketahanan pangan (food security) tidak akan terwujud tanpa ketahanan nutrisi (nutritional security). Dan tanpa keamanan pangan (food safety) maka semuanya tidak akan membawa manfaat kesehatan.

Penekanan tersebut diangkat dari pernyataan Direktur Departemen Keamanan Pangan dan Penyakit-penyakit Asal Hewan dan Pangan WHO, Jorgen Schlundt yang disiarkan Science and Development Network. AVRDC belakangan ini cukup gencar mengingatkan masyarakat dunia tentang mendesaknya upaya menempatkan sayuran pada posisi yang seharusnya dalam diet berimbang masyarakat demi mencapai ketahanan nutrisi.

Direktur Jenderal AVRDC, Prof. Dyno Keatinge pada satu seminar di University of Reading, Inggris (Maret 2010) dan ceramah di Pusat Ketahanan Pangan Universitas Hohenheim, Jerman (Juni 2010) mengatakan masyarakat dunia dalam 40 tahun terakhir telah memusatkan perhatian pada upaya menanggulangi kelaparan. Tetapi keberhasilan meningkatkan produksi bahan pangan pokok (staple crops) telah menimbulkan beban besar terhadap keragaman pertanian dan kesehatan masyarakat.

la menunjuk pada fakta bahwa di banyak negara berkembang lebih dari 70% diet sekarang terdiri dari satu jenis makanan pokok. Ini tidak sehat karena sejatinya kebutuhan pokok adalah pangan berimbang. Masyarakat di negara-negara berkembang dan maju memperoleh diet dengan kandungan karbohidrat dan lemak yang tinggi. Tingkat konsumsi sayuran sering di bawah standar minimal.

Diet dengan kandungan tinggi karbohidrat dan lemak cenderung meningkatkan masalah kesehatan seperti kegemukan, hipertensi, diabetes tipe-2, dan masalah kesehatan kronis lainnya.

Sayuran sering diabaikan riset pertanian internasional. Di dunia kini terdapat satu milyar penduduk rawan nutrisi dan dua milyar yang kelebihan nutrisi. Ini pertanda diet berimbang dan agenda riset internasional sayuran sudah mendesak.

Pada pertemuan internasional di Dakar, Senegal, Desember 2010, Keatinge mengemukakan diet tak seimbang ini juga cukup mengkhawatirkan di lingkungan perkotaan sehubungan dengan arus urbanisasi yang deras khususnya di negara-negara berkembang. Pada tahun 2008 jumlah penduduk dunia di perkotaan sudah melebihi yang tinggal di pedesaan. Dalam 15 tahun berikutnya diperkirakan jumlah penduduk di perkotaan akan mencapai 60% penduduk dunia, yakni sekitar 4,5 milyar.

Ditegaskan bahwa kebutuhan kunci sekarang ini adalah diet berimbang. Dan sayuran merupakan sumber terbaikvitamin, mikronutrisi dan serat yang dibutuhkan tubuh manusia untuk kesehatannya. Sayuran menambahkan keragaman nutrisi yang sangat dibutuhkan dalam diet.

Ketahanan Nutrisi

Dalam uraiannya, Jorgen Schlundt mengutarakan kebanyakan ilmuwan dewasa ini sepakat petani sebenarnya memproduksi cukup banyak pangan untuk memenuhi kebutuhan 6 milyar penduduk bumi. Kenyataan bahwa lebih dari satu milyar penduduk masih mengalami kelaparan dan rawan gizi dipandang sebagai akibat dari distribusi yang tidak memadai.

Namun, kita tidak akan bisa menghilangkan kelaparan global cukup dengan hanya meningkatkan kapasitas distribusi produk pertanian ke semua penduduk tanpa ada jaminan bahwa pasok pangan tersebut juga bermutu.

Konsep ketahanan nutrisi, menurut Schlundt adalah menjamin akses ke pangan yang bernutrisi dan jumlahnya cukup. Konsep ini menekankan pentingnya kualitas pangan bagi masyarakat semua usia. Nutrisi dan keamanan pangan tidak terpisahkan. Ketika pasok pangan kurang, orang akan  mengkonsumsi makanan kurang bergizi dan tidak aman: karena bahaya kontamisasi kimia, mikroba, penyakit asal hewan dsb.

 

Paling Menguntungkan

Mengenai pilihan sayuran untuk menjamin ketahanan nutrisi, Prof. Keating beralasan bukan hanya karena kekayaan nutrisinya untuk pangan berimbang.

Sayuran termasuk di antara tanaman yang menawarkan keuntungan tertinggi di antara semua produk pertanian per satuan lahan, waktu dan tenaga kerja. Dibanding tanaman pangan pokok, sayuran lebih tahan terhadap kekeringan, lebih toleran terhadap kekurangan hara tanah.

Peluang keuntungan dan manfaat itu, lanjutnya, perlu dimaksimalkan dengan pemahaman mengenai karakteristik sistem produksi sayuran lokal. Dan salah satu kunci keberhasilannya adalah benih berkualitas.

Sumber : admin | File : | Dibaca : 23616 x


Form Komentar Berita


Berita Lainnya

CADANGAN DEVISA MARET 102,6 MILIAR DOLAR
08 April 2014

Bank Indonesia mengumumkan posisi cadangan devisa Indonesia akhir Maret 2014 mencapai 102,6 miliar dolar AS, sedikit menurun dari posisi akhir Februari 2014 sebesar 102,7 miliar dolar AS.

INDONESIA BUTUH 23.000 TENAGA PENYULUH PERTANIAN
08 April 2014

Tahun ini jumlah penyuluh bisa ditambah sebanyak 10.000 orang lagi dan sisanya atau 13.000 orang direkrut pada tahun depan,"

PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI VERSI INDEF
08 April 2014

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 mampu mencapai tujuh persen jika ada perubahan kebijakan ekonomi.

SEJUMLAH AREAL SAWAH DI INDRAMAYU BERPOTENSI ALAMI KEKERINGAN
08 April 2014

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu, Takmid Sarbini menilai, ada sejumlah areal sawah di Kabupaten Indramayu yang berpotensi mengalami kekeringan bila terjadi fenomena el nino

‹ First  < 93 94 95 96 97 >  Last ›