Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Provinsi Jawa Barat Ke-69,--“Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh”
Home >> Informasi >> Berita
Berita

03 Mei 20110
SECERCAH HARAPAN : PERTANIAN ORGANIK DARI DAERAH PELOSOK
Penulis : Admin

www.panoramio.com

Melewati bukit dengan jalan terjal bebrbatu yang rawan longsor, disebuah lembah yang curam dibangun sebuah bending parit yang dibiayai Direktorat Jenderal Prasranan dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian.

Diperlukan dua jam perjalanan dengan menggunakan mobil pribadi untuk sampai ke tempat itu, yakni Dusun Walabar, Desa Kadupandak, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Tidak ada kendaraan umum yang lewat ke daerah ini. Motor pun masih jarang lewat.

H. Tisna Ketua Kelompok Tani Lemah Putih di desa itu mengatakan pembangunan bendung tersebut manfaatnya sangat terasa oleh petani. "Dengan dibangunnya bendung parit ini kini para petani bisa tanam 3 kali setahun, sebelumnya kami hanya bisa tanam satu atau dua kali per tahun," tambah H. Tisna kepada Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Gatot S. Irianto yang mengunjungi bendung di Desa Kadupandak ini.

Dari Kadupandak, Gatot S. Irianto melanjutkan perjalanan ke perkebunan cabe milik petani di desa Cibeureum, Kecamatan Sukamantri, Ciamis. Jalan menuju lokasi cukup berat. Di sebuah bukit yang kemiringan lerengnya curam, para petani di desa ini menanam cabe merah.

Pipin Arif Apilin Ketua Gapoktan Karang Sari mengatakan ada sekitar 72 ha lahan berlereng di bukit desa ini yang dijadikan kebun cabe merah. Untuk pengairannya, biasanya para petani menggunakan pompa untuk menyedot airsumber ke puncak bukit untuk dialirkan ke bawah. "Sekarang kami mendapatkan air irigasi secara gratis setelah mendapatkan bantuan pembuatan embung di atas bukit ini," jelas Pipin.

Selain mendapat bantuan embung, Pipin dan Gapoktannya juga mendapatkan bantuan pembangunan jalan usaha tani. Semula mereka untuk membawa pupuk organik harus mengeluarkan biaya panggul Rp 1.500 per karung. "Sekarang kami bisa bawa sendiri dengan menggunakan motor," tambahnya.

Kegigihan Pipin dan anggota Gapoktannya mengusahakan cabe merah organik ini disambut oleh mitra bisnis dariPT. ABC, produsen pangan olahan. “Kami  bermitra dengan PT. ABC. Mereka kontrak pembelian cabe dengan kami. Biaya produksi kamiyang tanggung,” tutrnya. Dari 72 ha lahan yang dikelola Gapoktan ini, PT ABC mengontrak pembelian cabe seluas 30 ha. Selebihnya, para petani cabe di sini menjualnya langsung ke pasar induk di Bandung dan Jakarta.

Paket 50 Juta

Gatot menjelaskan bendung berbeda dengan bendungan. Bendung adalah dam untuk menaikkan muka air. Sedangkan bendungan atau reservoir adalah untuk menyimpan air. "Kita Ditjen PSP yang dulu bernama Ditjen Pengelolaan Lahan dan Air mengembangkan bendung ini secara luas," tambah Gatot. Paket bantuannya Rp 50 juta yang akan bisa mengairi kawasan areal sawah seluas 50 ha.

Pengembangan bendung parit seperti ini menurut Gatot menjadi pilihan untuk wilayah yang berbukit dan kaya sumber air seperti Garut, Tasikmalaya dan Ciamis. "Kita juga akan mengembangkan teknologi ini untuk Kabupaten Majalengka, Sumedang, Kuningan, Purworejo, Temanggung. Masyarakat kreatif mengelola airnya," tambahnya.

Secara nasional, Kementerian Pertanian biasanya mengembangkan500 unit bendung parit ini per tahun. "Namun untuk tahun ini, tahun 2011, kita mengembangkan 3000 unit," jelasnya. Hingga sekarang paling tidak sudah ada 6 ribu unit embung atau bendung parit yang dikembangkan. Pilihan mana yang dikembangkan tergantung sumber airnya. Model pengerjaannya adalah padat karya.

Pembangunan bendung pola padat karya menurut H. Tisna membuat para petani lebih merasa memiliki. "Mereka tidak mengambil untung, sebaliknya malah berswadaya agar sawah yang dialiri lebih luas. Begitu ada yang rusak, para petani secara gotong royong segera memperbaiki," kata H. Tisna.

Karena wilayahnya yang terpelosok alias terpencil H. Tisna lebih memilih menggunakan pupuk organik dalam bertanam padi. Untuk mengembangkan kemandirian pengadaan pupuk organik dan meningkatkan mutu kualitas pupuk organiknya, Ditjen PSP juga memberikan bantuan Unit Pengolahan Pupuk Organik (UPPO).

Dengan adanya UPPO lanjut Tisna kini, para petani sudah bisa membuat pupukorganik sendiri dengan kualitas yang  bagus. "Yang bisa beli pupuk organik ke pasar, kini cukup beli di kelompok tani, keuntungannya akan kembali ke anggota," paparnya.

Sumber : Sinar Tani | File : | Dibaca : 18362 x


Form Komentar Berita


Berita Lainnya

MINIM PASOKAN AIR, RIBUAN HEKTAR SAWAH DI PANTURA TAK BISA DITANAMI
27 Agustus 2014

Sekitar 60 persen dari 10 ribu hektar areal sawah tersebar di empat kecamatan yang ada di wilayah Pantura Kabupaten Subang belum bisa ditanami.

Pasalnya aliran air dari saluran irigasi

KUNINGAN BERTEKAD ZERO LAHAN KRITIS PADA 2018
27 Agustus 2014

Seluruh warga masyarakat beserta segenap aparatur pemerintah, hendaknya selaras dan kompak dalam mewujudkan tekad Kabupaten Kuningan sebagai kabupaten konservasi dalam meng-nol-kan (zero) lahan kritis paling tidak pada 2018 mendatang.

PETANI 101 TAHUN DIBERI PENGHARGAAN ATAS JASA PENGAMATAN CUACA
26 Agustus 2014

Richard Hendrickson lakukan pengamatan cuaca di pertaniannya sebagai bentuk pengabdian terhadap negaranya selama lebih dari 8 dekade.

SEBANYAK 40 PERSEN WARGA CIANJUR HANYA BURUH TANI
25 Agustus 2014

Sebanyak 40 persen dari total jumlah penduduk Kabupaten Cianjur sebanyak 2,2 juta jiwa hanya sebagai buruh tani. Padahal, Kabupaten Cianjur menjadi salah satu kabupaten yang dijadikan lumbung padi Jawa

 1 2 3 >  Last ›