Peringatan Ke-86, Hari Ibu Nasional Tahun 2014. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)
Home >> Informasi >> Berita
Berita

03 Mei 20110
SECERCAH HARAPAN : PERTANIAN ORGANIK DARI DAERAH PELOSOK
Penulis : Admin

www.panoramio.com

Melewati bukit dengan jalan terjal bebrbatu yang rawan longsor, disebuah lembah yang curam dibangun sebuah bending parit yang dibiayai Direktorat Jenderal Prasranan dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian.

Diperlukan dua jam perjalanan dengan menggunakan mobil pribadi untuk sampai ke tempat itu, yakni Dusun Walabar, Desa Kadupandak, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Tidak ada kendaraan umum yang lewat ke daerah ini. Motor pun masih jarang lewat.

H. Tisna Ketua Kelompok Tani Lemah Putih di desa itu mengatakan pembangunan bendung tersebut manfaatnya sangat terasa oleh petani. "Dengan dibangunnya bendung parit ini kini para petani bisa tanam 3 kali setahun, sebelumnya kami hanya bisa tanam satu atau dua kali per tahun," tambah H. Tisna kepada Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Gatot S. Irianto yang mengunjungi bendung di Desa Kadupandak ini.

Dari Kadupandak, Gatot S. Irianto melanjutkan perjalanan ke perkebunan cabe milik petani di desa Cibeureum, Kecamatan Sukamantri, Ciamis. Jalan menuju lokasi cukup berat. Di sebuah bukit yang kemiringan lerengnya curam, para petani di desa ini menanam cabe merah.

Pipin Arif Apilin Ketua Gapoktan Karang Sari mengatakan ada sekitar 72 ha lahan berlereng di bukit desa ini yang dijadikan kebun cabe merah. Untuk pengairannya, biasanya para petani menggunakan pompa untuk menyedot airsumber ke puncak bukit untuk dialirkan ke bawah. "Sekarang kami mendapatkan air irigasi secara gratis setelah mendapatkan bantuan pembuatan embung di atas bukit ini," jelas Pipin.

Selain mendapat bantuan embung, Pipin dan Gapoktannya juga mendapatkan bantuan pembangunan jalan usaha tani. Semula mereka untuk membawa pupuk organik harus mengeluarkan biaya panggul Rp 1.500 per karung. "Sekarang kami bisa bawa sendiri dengan menggunakan motor," tambahnya.

Kegigihan Pipin dan anggota Gapoktannya mengusahakan cabe merah organik ini disambut oleh mitra bisnis dariPT. ABC, produsen pangan olahan. “Kami  bermitra dengan PT. ABC. Mereka kontrak pembelian cabe dengan kami. Biaya produksi kamiyang tanggung,” tutrnya. Dari 72 ha lahan yang dikelola Gapoktan ini, PT ABC mengontrak pembelian cabe seluas 30 ha. Selebihnya, para petani cabe di sini menjualnya langsung ke pasar induk di Bandung dan Jakarta.

Paket 50 Juta

Gatot menjelaskan bendung berbeda dengan bendungan. Bendung adalah dam untuk menaikkan muka air. Sedangkan bendungan atau reservoir adalah untuk menyimpan air. "Kita Ditjen PSP yang dulu bernama Ditjen Pengelolaan Lahan dan Air mengembangkan bendung ini secara luas," tambah Gatot. Paket bantuannya Rp 50 juta yang akan bisa mengairi kawasan areal sawah seluas 50 ha.

Pengembangan bendung parit seperti ini menurut Gatot menjadi pilihan untuk wilayah yang berbukit dan kaya sumber air seperti Garut, Tasikmalaya dan Ciamis. "Kita juga akan mengembangkan teknologi ini untuk Kabupaten Majalengka, Sumedang, Kuningan, Purworejo, Temanggung. Masyarakat kreatif mengelola airnya," tambahnya.

Secara nasional, Kementerian Pertanian biasanya mengembangkan500 unit bendung parit ini per tahun. "Namun untuk tahun ini, tahun 2011, kita mengembangkan 3000 unit," jelasnya. Hingga sekarang paling tidak sudah ada 6 ribu unit embung atau bendung parit yang dikembangkan. Pilihan mana yang dikembangkan tergantung sumber airnya. Model pengerjaannya adalah padat karya.

Pembangunan bendung pola padat karya menurut H. Tisna membuat para petani lebih merasa memiliki. "Mereka tidak mengambil untung, sebaliknya malah berswadaya agar sawah yang dialiri lebih luas. Begitu ada yang rusak, para petani secara gotong royong segera memperbaiki," kata H. Tisna.

Karena wilayahnya yang terpelosok alias terpencil H. Tisna lebih memilih menggunakan pupuk organik dalam bertanam padi. Untuk mengembangkan kemandirian pengadaan pupuk organik dan meningkatkan mutu kualitas pupuk organiknya, Ditjen PSP juga memberikan bantuan Unit Pengolahan Pupuk Organik (UPPO).

Dengan adanya UPPO lanjut Tisna kini, para petani sudah bisa membuat pupukorganik sendiri dengan kualitas yang  bagus. "Yang bisa beli pupuk organik ke pasar, kini cukup beli di kelompok tani, keuntungannya akan kembali ke anggota," paparnya.

Sumber : Sinar Tani | File : | Dibaca : 22627 x


Form Komentar Berita


Berita Lainnya

KEMENTERIAN PERTANIAN DAN UGM SEPAKAT KERJASAMA PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN
29 Januari 2015

Pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk menggenjot swasembada pangan. Untuk mencapai target kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani tiga tahun ke depan, Kementerian Pertanian melakukan akselerasi dengan cara perbaikan irigasi,

MENTAN HERAN LIHAT BENDUNGAN RUSAK TAK DIPERBAIKI 33 TAHUN
29 Januari 2015

Pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertekad untuk melakukan swasembada pangan pertanian dalam tiga tahun mendatang. Melihat hal itu, diperlukan dorongan pemerintah untuk mendukung terwujudnya swasembada tersebut.

BANTU TENAGA PENYULUH PERTANIAN, MENTAN KERAHKAN 5.000 MAHASISWA
29 Januari 2015

Kekurangan tenaga penyuluh pertanian menyebabkan produksi pangan nasional semakin melempem. Seharusnya, tenanga penyuluh yang ideal untuk setiap desa dibutuhkan satu orang. Hal ini yang menyebabkan Indonesia masih kekurangan sebanyak

LIMA RESEP JITU AGAR BERAS RI LEBIH UNGGUL DARI THAILAND
29 Januari 2015

Indonesia masih saja mengimpor beras dari negara tetangga. Pasalnya, produksi padi Indonesia masih kalah dibanding Thailand dan Vietnam yang memiliki kuantitas dan kualitas padi yang jauh lebih baik.

 1 2 3 >  Last ›