Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Provinsi Jawa Barat Ke-69,--“Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh”
Home >> Informasi >> Berita
Berita

28 Juli 20090
Perlawanan Petani Pemulia Indramayu
Penulis : Teguh Wiguna

Tatkala sebagian besar petani Indonesia terjebak dalam perangkap produsen benih maupun distributor sarana produksi pertanian, sekelompok petani di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, ”melawan”.

Esensi perlawanan mereka dalam bentuk pembuktian diri bahwa mereka mampu meminimalisasi ketergantungan.

”Ada kenikmatan tersendiri melihat hasil penyilangan yang bagus. Petani jadi tambah semangat tiap kali mau ke sawah,” ujar Muhamad Suryaman (27) dengan mata berbinar-binar.

Petani Desa Jengkok, Kecamatan Kertasemaya, itu bersama beberapa petani dari Kelompok Karya Peduli Tani sudah beberapa musim tanam ini tidak lagi membeli benih padi.

Mereka memproduksi benih sendiri. ”Ketika panen, kami memilih padi terbaik lalu menyimpan di lumbung untuk ditanam kembali,” ujar Muhamad.

Di Indramayu, selain Kelompok Karya Peduli Tani, ada 13 kelompok lain yang tersebar di 14 kecamatan. Mereka berkelompok mempelajari ilmu pemuliaan, morfologi tanaman dan bunga lengkap dengan perhitungan usaha taninya untuk mengembalikan dan melestarikan kekayaan keragaman genetik tanaman padi.

Introduksi varietas padi ”unggul” di negeri ini memang telanjur mengikis varietas lokal.

Padahal, ada nilai unggul dari varietas lokal, yang boleh jadi diidamkan petani, terlebih, varietas lokal telah beradaptasi dengan lahan pertanian setempat sehingga ketika disilangkan, diharapkan memproduksi lebih banyak gabah atau buah padi. Lebih banyak gabah artinya petani lebih sejahtera.

Adalah Yayasan Farmers’ Initiative for Ecological Livelihood and Democracy (FIELD) Indonesia, yang menginisiasi petani Indramayu sejak tahun 2002.

”Tidak mudah mengajak petani mengembangkan diri. Sejak zaman Orde Baru, petani selalu dijadikan obyek. Tidak pernah diarahkan untuk mandiri,” ujar Wiwik Sriyanti, staf FIELD di Indramayu. Pertanyaan yang kerap dilontarkan petani adalah ”Mau kasih bantuan apa?”

Untuk membangkitkan petani, diadopsi metode ”sekolah lapangan”. Petani dikumpulkan sekali seminggu selama satu musim tanam (12 minggu) untuk mengamati dan mendiskusikan padi. ”Dalam waktu singkat, mereka memimpin. Ternyata, petani lebih ahli daripada kami. Kapan wereng bertelur saja, mereka tahu,” ujar Rendra Kusuma W, staf FIELD.

Joharipin (33), petani Desa Jengkok, kini telah berhasil mengembangkan galur benih yang diidamkannya. Dinamai Bongong, benih itu hasil persilangan varietas Kebo dan Longong.

Karakteristik produksi dari padi Bongong adalah kerontokan sedang, tahan kerebahan, pulen, warna beras lebih benih, tahan hama wereng dan kresek, dengan potensi hasil 12,8 ton gabah kering panen per hektar.

Padi Bongong telah ditanam di lahan seluas hampir 80 hektar. Produktivitas tinggi menarik perhatian sesama petani. Padahal, awalnya Joharipin dicemooh. Dituduh gila hanya karena menanam padi persilangan sendiri yang pada awalnya sifat tanaman belum stabil. Ia juga menyalahi ”prinsip umum pertanian”, yakni menanam padi harus menyemprotkan pestisida.

Menolak Penangkaran

Cemoohan petani lain di Desa Jengkok kini berbuah pujian bagi Joharipin. Padi Bongong F7 hasil pemuliaan Joharipin tidak hancur saat tanaman padi varietas Ciherang di Indramayu diterjang hama penyakit pada musim tanam lalu. Dengan demikian, bukan hanya petani yang tertarik, tetapi pamong desa pun tertarik.

Joharipin mengisahkan, seorang camat pernah menawarkan penangkaran benih. ”Camat itu minta agar saya tanda tangan di atas kertas segel. Tetapi, saya tolak karena benih itu belum tentu cocok di lokasi lain,” katanya.

Menurut Joharipin, penangkaran lalu penjualan benih sama artinya mengingkari kesepakatan awal dari keikutsertaannya dalam program ini. Salah satu tujuan pemuliaan benih, kata Joharipin, adalah menghilangkan ketergantungan benih dari pihak lain. Ia tidak ingin berperilaku layaknya produsen benih.

Saat ini Pemerintah Kabupaten Indramayu, yang awalnya antipati terhadap petani pemulia benih, perlahan menunjukkan keberpihakannya. Dana pun dikucurkan untuk membiayai sekolah lapangan, dengan materi dan kurikulum yang disediakan Yayasan FIELD Indonesia. Tidak kurang enam kelompok sedang menempuh pendidikan di enam sekolah lapangan. 

Sumber : Indramayu Post | File : | Dibaca : 31656 x


Form Komentar Berita


Berita Lainnya

UBI JALAR LOKAL DAN NARUTO UNTUK EKSPOR KE JEPANG
29 Agustus 2014

Jangan sepelekan ubi jalar. Berkat budi daya tanaman umbi-umbian yang menjalar ini PT Galih Estetika bisa mengekspor ubi ke Jepang dan Korea Selatan. Di bawah hujan rintik, Presiden Susilo

PENGGUNAAN BENIH JAGUNG HIBRIDA REGENERASI PADA USAHATANI JAGUNG
28 Agustus 2014

Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, penggunaan benih hibrida turunan atau recycled hybrid masih menjadi pilihan petani khususnya pada pertanaman musim tanam kedua. Alasannya pun sederhana, harga benih hibrida mahal

SOLAR LANGKA, SEJUMLAH PENGGILINGAN PADI MEMILIH TUTUP
28 Agustus 2014

Sejumlah penggilingan padi di Kabupaten Cianjur merasakan kesulitan mendapatkan solar menyusul adanya pembatasan pembelian BBM jenis solar dan premium.

"Kalau saya masih memaksakan buka karena banyak petani yang menginginkan

MINIM PASOKAN AIR, RIBUAN HEKTAR SAWAH DI PANTURA TAK BISA DITANAMI
27 Agustus 2014

Sekitar 60 persen dari 10 ribu hektar areal sawah tersebar di empat kecamatan yang ada di wilayah Pantura Kabupaten Subang belum bisa ditanami.

Pasalnya aliran air dari saluran irigasi

 1 2 3 >  Last ›